Sabtu,8 Februari 2020 (13 Shevat 5780)
Tanggalkan kasutmu!
Bacaan : Kel 3:1-10
Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."
(Kel
3:5)
Musa melarikan diri
dari Mesir ketika dia berumur 40 tahun (Kis 7:23), selama 40 tahun Tuhan
(Kis 7:30) mengajar dia menjadi gembala bersama keluarga Yitro, dan menikah
dengan Zipora dan dikarunia dua anak Gersom dan Eliezer. Kehidupan yang sudah
stabil, tiba-tiba berubah lagi ketika dia melihat semak duri yang menyala.
Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro,
mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke
seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu
Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari
semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi
tidak dimakan api. (Kel 3:1-2)
Manusia bisa lupa,
umur pun mungkin sudah tua, tapi Tuhan tidak pernah lupa dan selalu tepat dalam
memposisikan seseorang. Setelah 40 tahun pertama belajar di tempat belajar
terbaik didunia, Mesir, Musa diajar langsung oleh Tuhan selama 40 tahun untu
menyiapkan dia menjadi pembebas bagi orang Israel, hari itu Tuhan tahu Musa
sudah siap untuk kembali ke Mesir.
Semak duri yang menyala
adalah sebuah cara Tuhan memanggil Musa untuk “menyimpang” dari rutinitas (Kel
3:3). Ketika dilihat Tuhan bahwa Musa
mengambil langkah iman untuk “menyimpang”, maka disaat itulah Tuhan mulai berbicara,
menampakan diriNya. (Kel 3:4).
Tuhan memanggil langsung
kepada namanya, “Musa, Musa!” Sejak bayi, dan dikeranjang, selama 80 tahun
didunia, Tuhan mengenal Musa. Mungkin diwaktu itu, secara karir, dan status
sosial, Musa adalah orang biasa, dan gembala yang sedang mengerjakan rutunitas pekerjaan.
Dilupakan seluruh Mesir bahkan. Tapi bagi Tuhan, Musa tidak pernah biasa, dia
adalah orang yang dia pilih untuk sebuah mandat besar, melepaskan Israel dari
perbudakan.
Tuhan selalu punya
rencana, cara, dan jalan karena Dia adalah Tuhan atas langit dan bumi (Yes
55:9, 66:1, Mat 29:18). Tapi, karena
keadaan, seringkali kita menjadi ragu akan rencana besar Dia, sehingga akhirnya
bertindak pragmatis, dan praktis untuk kepentingan sesaat, akibatnya menyimpang
dari mandat Ilahi yang seharusnya kita hidupi.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu
bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Rom 8:28)
Sebab itulah Tuhan perintahkan,
“Tanggalkan Kasutmu!” (Kel 3:5). Musa harus dipisahkan (dikuduskan) dari
jalan-jalan yang biasa, dan mulai mengikuti jalan Ilahi untuk memulai mandatNya. Sebelumnya, dengan cara sendiri Musa gagal,
karena dia belum siap, dan belum dipisahkan. Kel 7:25, “Pada sangkanya
saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk
menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti.”
Ada titik dihidup
kita, perintah “tanggalkan kasutmu” Itu akan hadir. Disaat itulah kita tahu, bahwa
kita tidak bisa hidup seperti biasa lagi, tapi itulah titik awal dimana mandat
Ilahi dimulai. Seluruh hidup Musa dipersiapkan untuk itu, demikian juga hidup
kita. Disaat Tuhan minta kita
meninggalkan kasut kita, seperti Yesus di taman Getsemani, yang bisa kita
katakan cuma, “Jadilah kehendakMu” (Mat 26:43).
Pendalaman Alkitab:
Kata Ibrani hinneh (H2009) yang dibaca hineni adalah satu kata
tapi yang diterjemahkan menjadi Here I am, atau ini aku. Kata ini digunakan
ketika Musa menjawab Tuhan, “Ya Allah” (Kel 3:4), dan digunakan Yesaya untuk
menjawab panggilan Tuhan, “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8). Ketika Tuhan
memanggil Abraham untuk menyerahkan Ishak, “Abraham, Abraham”, maka Abraham menjawan
menggunakan kata yang sama, “Ya Tuhan”, hineni. (Kej 22:11). Samuel
ketika merespon panggilan (I Sam 3:6,8), menggunakan kata hineni sebagai tanda
kesiapan, dan kehadiran. Memiliki arti lugas, lihatlah atau behold, kata hineni
adalah kata yang penting untuk memperlihatkan kedekatan, keintiman dengan yang
memanggil, juga respon yang Tuhan ketika Tuhan memanggil.
Kita hanya bisa
maksimal, apabila kita sudah selesai dengan diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar