Jumat, 07 Februari 2020

Berseru Kepada Allah

Jumat, 7 Februari 2020 (12 Shevat 5780)

Berseru kepada Allah
Bacaan : Kel 2:23-25

Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.
(Kel 2:24-25).


Keluarga Yakub memulai kehidupan di Mesir dengan kelimpahan karena Yusuf menjadi pemimpin di negeri itu. Tapi, setelah cerita Yusuf dilupakan, maka Mesir membuat bangsa Israel menjadi budak. Mulailah masa yang sulit bagi bangsa itu.

Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. (Kel 3:23)

Mulai Israel berseru dan minta tolong kepada Allah Israel. Kemudian dikatakan, Tuhan mendengar (shama), mengingat (zakar), melihat (raah), dan kemudian memperhatikan (yada). Bukannya Tuhan tidak tahu, karena Dia adalah yang mahatahu, tapi seruan seperti bangsa Israel itu yang akan membuat hati Tuhan tersentuh.

Yesaya mengatakan telinga Tuhan tidak pernah kurang tajam, tangannya tidak pernah kurang panjang untuk menolong kita (Yes 59:1). Tapi dibutuhkan para penjaga tembok untuk tidak berdiam diri.

Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi. (Yes 62:6)

Permasalahan dalam kehidupan kita yang memperbudak tidak bisa didiamkan. Kita harus berseru kepada sampai Dia mendengar, mengingat, melihat, dan memperhatikan permasalahan yang sedang kita hadapi.

70 tahun di perbudakan, Tuhan berjanji kepada Israel, setelah selesai 70 tahun, maka Israel akan kembali ke tanah perjanjian (Yer 29:10-11). Tapi Dia pun memberikan petunjuk, bahwa diakhir 70 tahun itu Israel perlu berdoa, berseru, mencari, dan menemukan Tuhan.

Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,  (Yer 29:12-13)

Yesus mengajarkan kepada kita untuk meminta, mencari, dan mengetok supaya kita menerima, mendapat dan pintu dibukakan (Mat 7:7-8). Dalam buku Yakobus juga disebutkan kita tidak menerima apa-apa, karena kita tidak berdoa (Yak 4:2b).

Baik dilevel pribadi, keluarga, komunitas, kota, bahkan bangsa seperti Israel, semua bisa diselesaikan oleh seruan dari dalam hati kita yang terdalam. Seperti kata pemazmur from deep call unto the deep (dari kedalaman memanggil kedalaman) (Maz 42:7).  Roh Kudus sendiri yang mengajarkan kita berdoa dengan keluhan yang terucapkan (Rom 8:26)


Pendalaman Alkitab:
Kata perbudakan dalam bahasa Ibrani abodah (H5148)  yang diartikan sebagai sebagai kerja, melayani. Berasal dari kata dasar abad (5647) yang menjadikan kata ebed (5650) yang artinya budak. Kata budak dalam bahasa Yunani dipakai kata doulos (G1401) yang artinya hamba adalah kata yang penting untuk memperlihatkan karakter, ketaatan, dan sikap sebagai pengikut Yesus.  Paulus menyebutkan bahwa pilihannya kita menjadi budak dosa atau kebenaran (Rm 8:16-20).

Kepada siapa kita mengabdi itulah yang menentukan kemenangan.



Kamis, 06 Februari 2020

Kegelisahan Yang Menuntun

Kamis, 6 Februari 2020 (11 Shevat 5780)

Kegelisahan Yang menuntun
Bacaan : Kel 2:11-22

Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir.
(Kel 2:11-12)


Musa dibesarkan di Istana Mesir, seharusnya dia sudah berfikir dan hidup seperti orang Mesir. Tapi ternyata dia masih memiliki naluri sebagai seorang Ibrani. Ketika dia melihat saudara-suadaranya diperbudak dalam kerja paksa, Musa secara spontan memiliki keinginan untuk menolong.

Panggilan mandat Ilahi dalam diri Musa yang membuat dia tergerak, meskipun cara untuk menolong itu salah, tapi kegelisahan dalam dirinya itu yang menuntunnya. Kegelisahan Ilahi seperti Musa itu juga yang akan menuntun kita sehingga mampu melihat dan mengenali mandat kita, ketika kita menemukannya.

Salomo di masa tuanya mengajarkan tentang arti kehidupan dalam buku Pengkotbah, dan dia mengatakan untukan kita mengerjakan apa yang ditangan.

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pkh 9:10)

Ketika kita melihat, kita akan mengerti. Ketika akhirnya Musa harus lari dari Firaun selama 40 tahun dia dilatih menjadi gembala oleh mertuanya Imam Yitro, dan ketika akhirnya dia melihat semak belukar yang berapi, dia mengerti maka dia berbelok dari jalur yang biasanya.

Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu? (Kel 3:2-3)

Dalam perjalanan menemukan panggilan dan hidup kita, seperti Musa, kita terkadang memulai dengan salah jalan, tapi pada akhirnya kita akan mengerti. Untuk itu perlu 40 tahun di Midian, bagi Musa untuk akhirnya benar-benar paham Mandat Ilahi dalam hidupnya.

Musa harus menyimpang dari jalan-jalan yang biasa dia lalui, bahkan dalam kitab Ibrani dikatakan, “Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun” (Ibr 11:24). Artinya, demi mandat Ilahi, dia keluar dari zona nyaman, dan mulai mengikuti jalan baru yang baru.

Bagi Musa, 40 tahun di istana Mesir, kemudian 40 tahun di Midian adalah persiapan bagi dia untuk menghidupi panggilan yang sebenarnya, yaitu melepaskan bangsa Israel dari Mesir, menuju tanah Perjanjian. Bukan hanya melihat dan mengerti, pada akhirnya kita semua harus menghidupi mandat Ilahi kita sampai selesai. Ijinkan kegelisahan Ilahi menuntun kita.

Pendalaman Alkitab:
Kata menuntun dalam bahasa Ibrani nachah (H5148)  diartikan sebagai sebagai menuntun, membimbing, memimpin, sampai kepada meluruskan, meletakkan, dan juga memindahkan dari satu tempat ke tempat lain (to transport). Maz 23:3 menggunakan kata nachah untuk memperlihatkan bagaimana Tuhan sebagai gembala kita menuntun kita kejalan-jalan kita. Nachah bukan hanya sebuah himbauan, tapi sebuah keharusan yang harus dikerjakan.

Langkah pertama membutuhkan keberanian, langkah terakhir membutuhkan ketaatan.


Rabu, 05 Februari 2020

Membangun Bahtera

Rabu, 5 Februari 2020 (10 Shevat 5780)

Membangun Bahtera

Bacaan : Kel 2:1-10

Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;
(Kel 2:3)

Generasi ke-5 dari Abraham yaitu generasi anak-anak Efraim dan Manasye (anak-anak Yusuf), tinggal di Mesir 430 tahun.  Dari 1 keluarga, akhirnya menjadi Israel satu bangsa. Bangsa yang memiliki janji akan sebuah tanah (the land), yaitu tanah yang terbentang dari sungai Mesir ke sungai Efrat (Kej 15:18-21; Kej 26:3; Kej 28:13; Kel 23:31).

Mesir bukanlah tanah perjanjian. Sebab itu ketika waktunya tiba, maka Israel harus keluar dari Mesir. Di awal kedatangan keluarga Yakub (Israel), Mesir adalah solusi, tapi akhirnya Mesir menjadi tempat perbudakan.
Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun. Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.  (Kel12:40)
Tuhan tidak pernah terlambat. Dia selalu menyiapkan solusi, sebelum memberikan instruksi. Sebelum Israel berseru, bahkan mengerang karena perbudakan (Kel 2:23-25), Tuhan menyiapkan 1 orang keturunan Lewi (Kel 2:1), bernama Musa untuk proyek besarNya mengeluarkan Israel dari Mesir sehingga menggenapi janjiNya atas Abraham, Ishak, dan Yakub.

Musa diselamatkan dari pembunuhan bayi-bayi oleh Firaun ketika dia ditempatkan di keranjang / peti yang diapungkan di sungai Nil, sampai akhirnya dipungut putri Firaun (Kel 2:9). Kata keranjang atau peti dalam bahasa Ibrani dipakai kata tebah yang artinya adalah bahtera.

Kata tebah ini pertama kali digunakan dalam Alkitab ketika Tuhan menyuruh Nuh untuk membuat bahtera sehingga menyelamatkan dari hukuman Tuhan atas manusia melalui banjir besar.

Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. 
Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.  (Kej 6:14-15)

Keranjang, peti, atau bahtera adalah simbol tempat yang paling aman untuk Musa, dan keluarga Nuh. Pola membangun bahtera adalah pola Ilahi setiap kali Dia menyelamatkan manusia. Selalu ada bahtera-bahtera yang disiapkan untuk menyelamatkan.

Tuhan Yesus menubuatkan bahwa akhir zaman akan seperti zaman Nuh (Mat 24:37-39). Artinya, seperti Nuh dan Musa, kita membutuhkan tebah, bahtera akhir zaman. Tuhan mencari orang-orang yang mau menyiapkan jalan seperti Yohanes Pembaptis (Mat 3:1-2).

Apa yang disiapkan? Ekklesia (yunani) atau jemaatNya atau gerejaNya atau tubuh Kristus atau mempelaiNya. Tuhan Yesus memberikan otoritas dan kuasa kepada EkklesiaNya  sehingga melepas dan mengikat apa yang disurga dan dibumi. 

Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Mat 16:18-19)

Didalam Yesus kita adalah batu-batu hidup yang dipergunakan untuk membangun Ekklesia, dimana orang-orang yang percaya akan masuk didalamnya dan diselamatkan dari hari penghakiman terakhir.  Dan pembangunan Bahtera Ekklesia dimulai dengan pernyataan “… Engkau (Yesus Kristus) adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Mat 16:16)


Pendalaman Alkitab:
Kata ekklesia dalam bahasa Yunani (G1577)  diterjemahkan jemaat  berasal dari kata ek (G1537) yang artinya kelua, dan kaleo (G2564) yang artinya dipanggil.  Ekklesia memiliki arti dipanggil keluar. Seperti Israel, dipanggil keluar dari Mesir untuk mewarisi dan menduduki tanah perjanjian yang sudah dijanjikan. Orang-orang yang terpanggil itulah Imamat yang Rajani (I Pet 2:9). Kata ekklesia ini berarti pertemuan (assembly) dan dalam konteks pertemuan rohani akhirnya diterjemahkan sebagai gereja. Kata ekklesia dalam kerajaan Romawi juga berarti pasukan yang diutus untuk menduduki suatu wilayah.

Kepada siapa kita berpihak, itulah yang akan menentukan kemenangan.


Selasa, 04 Februari 2020

Takut Akan Tuhan

Selasa, 4 Februari 2020 (9 Shevat 5780)

Takut Akan Tuhan

Bacaan : Kel 1:15-22

Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. 
(Kel 1:17)

Setelah Yusuf, bangsa Israel berkembang dengan sangat cepat memenuhi Mesir (Kel 1:9).  Bangkitnya Firaun yang baru yang tidak mengenal Yusuf adalah awal dari perubahan kehidupan keluarga Israel di Mesir. Mereka yang dahulunya menjadi warga kelas 1, sekarang menjadi kaum yang marginal.
Dipaksa membangun kota Pitom dan Raamses (Kel 1:11), Israel tidak menjadi berkurang tapi justru semakin ditindas semakin semakin bertambah.
Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu.  (Kel 1:12)
Pemeliharaan Tuhan atas Israel begitu menakjubkan. Dari orang-orang sisa 70 orang (Kel 1:5), Israel berkembang menjadi jutaan orang, sebuah bangsa lahir. Penindasan bukan menjadi halangan, tapi justru menjadi pemicu pertumbuhan. Dalam keadaan kehidupan “dipahitkan” Firaun (Kel 1:14), Israel tetap hidup karena janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Tuhan tidak pernah lupa.
Frustasi, Firaun mengeluarkan plot pembunuhan massal untuk bayi-bayi laki Israel (Kel 1:14), tapi itupun digagalkan karena ada dua bidan bernama Sifra dan Pua (Kel 1:15) yang takut akan Allah sehingga berani mati menentang perintah langsung Firaun, yang pada waktu itu adalah orang terkuat di dunia.
Takut akan Tuhan membuat Sifra dan Pua mengambil keputusan yang benar. Salomo mengatakan bahwa Takut akan Tuhan adalah awal dari pengetahuan (Ams 1:7). Takut akan Tuhan adalah sebuah ketetapan dan peraturan yang bersifat kekal. Artinya, berlaku disemua masa, musim, dan era.
"Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.  (Ul 6:1-2)
Kekudusan, kebesaran, keagungan, kemuliaan, kemahakuasaan, kemahadiran, dan kemahatuhan Tuhan membuat kita manusia seperti cacing (Yes 41:14)  yang tanpa pertolongan Tuhan tidak akan bisa hidup.
Yeremia memahami benar bahwa hanya orang-orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang-orang diberkati. Orang-orang yang mengandalkan manusia adalah orang-orang yang terkutuk (Yer 17:5-8).
Hidup dalam takut akan Tuhan, diartikan seperti hidup dengan selalu melihat wajah Tuhan (coram deo, latin), selalu dalam hadiratNya membuka pintu-pintu mujizat dalam kehidupan sehari-hari. Sifra dan Pua adalah orang-orang biasa yang luar biasa karena takut akan Tuhan. Kita pun bisa.

Pendalaman Alkitab:
Kata takut  dalam bahasa Yunani dipakai kata phobos (G5401) yang artinya kengerian, teror, kekaguman, dan keheranan. Dari kata phobos ini kita mendapatkan kata fobia atau ketakutan yang tidak rasional. Takut akan Tuhan mengandung arti ada hal yang tidak bisa disebutkan dengan kata-kata (irasional) mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, seperti sebuah fobia. Ketika Yesaya (Yes 6), Paulus (Rom 7:23), Simon Petrus (Luk 5:8) mengalami Tuhan, maka reaksinya adalah kesadaran akan kenajisan, status manusia celaka, dan orang berdosa.

Hidup tanpa takut akan Tuhan, adalah kebodohan terbesar manusia.



Senin, 03 Februari 2020

Tanah Perjanjian

Senin, 3 Februari 2020 (8 Shevat 5780)


tanah perjanjian

Bacaan : Kel 1:6-22

Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka. 
(Kel 1:6-22)

Yusuf keluar dari penjara menjadi orang ke-2 Firaun di Mesir, dan berhasil menyelamatkan keluarga, serta bangsanya dari kesulitan ekonomi, bahkan memberikan tempat yang terbaik bagi keluarga Yakub, ayahnya, di tempat terbaik di Mesir waktu itu, Goshen. Di Mesirlah akhirnya keluarga Yakub benar-benar menjadi sebuah bangsa yang besar, dan memenuhi negeri itu.
Waktu itu adalah waktu terbaik keluarga Yakub, Yusuf, dan seluruh keluarganya. Mereka melihat bahwa janji Tuhan kepada keluarga mereka digenapi. Bahkan bagi Yakub, pertemuan dengan Yusuf kembali sudah membuat dia siap mati.
Tanpa Rachel (istri yang dicintai), dan Yusuf (anak yang dikasihi), serta melihat perilaku anak-anak yang lain, membuat hati Yakub menjadi dingin (Kej 45:26). Dia kehilangan gairah untuk hidup.  Tapi pertemuan dengan Yusuf, mampu mengembalikan semua gairah, bahkan Yakub siap mati di Mesir.
Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya. Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup." (Kej 46:29-30)
Pernyataan itu penting. Yakub adalah orang yang mengerti benar janji Tuhan untuk Abraham, dan Ishak, yang akhirnya turun kepada dia, bukanlah Mesir, tapi Kanaan. Sebab itu, dia berkata kepada Yusuf untuk dikuburkan bersama Abraham, Sara, Ishak, dan Ribka di tanak Kanaan (Kej 49:29-30).
Yusuf pun mengerti bahwa Mesir bukanlah tanah yang dijanjikan. Meskipun waktu itu di Mesir dia orang yang berposisi, kehidupan yang sangat baik, tapi dia bisa melihat dengan iman, bahwa itu bukan tempatnya.
Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: "Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub. (Kej 50:24)
Dia pun berpesan untuk membawa tulang-tulangnya ketika bangsa Israel keluar dari Mesir (Kej 50:25). Mesir bukanlah tujuan, tapi bagian sebuah perjalanan. Meskipun Yakub dan Yusuf ada di Mesir, tapi mata dan hatinya tertuju kepada perjanjian Tuhan.

Melihat yang kekal, sementara mengerjakan yang di tangan, itulah sikap hati yang benar dalam kita menjalani kehidupan. Iman yang membuat kita bisa melihat yang kekal. “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.” (Ibr 11:22)


Pendalaman Alkitab:
Kata memperhatikan (Kej 50:24) dalam bahasa Ibrani  dipakai kata paqad (H6485) artinya mengunjungi, menghadiri, menjaga, mengukur keberadaan, menghitung.  Ketika Tuhan Yesus mengatakan carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat 6:33), Dia memberikan nuansa kata paqad dengan mengatakan jangan kuatir, burung pipit pun dipelihara (Mat 6:25-31). Rambut kita pun dihitung (Mat 10:30, Luk 12:7), sampai sejauh itu Tuhan paqad kepada kita.

Mengerjakan kekekalan tanpa melupakan pekerjaan di tangan adalah sukses sejati.

Hanny Setiawan

Minggu, 02 Februari 2020

Orang-Orang Sisa


Minggu, 2 Februari 2020 (7 Shevat 5780)

ORANG-ORANG SISA

Bacaan : Kel 1:1-7

Seluruh keturunan yang diperoleh Yakub berjumlah tujuh puluh jiwa. Tetapi Yusuf telah ada di Mesir. 
(Kel 1:5)

Keturunan Yakub yang akhirnya migrasi ke Mesir berjumlah 70 orang.  Jumlah yang sangat sedikit dibandingkan dengan janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub bahwa anak-cucu mereka akan seperti bintang di langit, dan pastir dilaut (Kej 22:17)
Ke-70 orang keturunan Yakub ini adalah generasi ke-4, mereka ini disebut generasi orang-orang sisa (remnant). Dalam sejarah cerita keselataman, terlihat pola Ilahi bagaimana Tuhan Yesus menggunakan orang-orang sisa untuk menyelesaikan agenda Kerajaan.
Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata:  (Kis 1:14-15)
Setelah kenaikan Tuhan Yesus ke surga, kekristenan dimulai dari hanya 120 orang, yang bertekun, sehati, dalam doa, dan akhirnya sejarah mencatat bahwa ke-120 benih awal kekristenan ini menjadi batu-batu fondasi kekekristenan.

Pasukan Gideon hanya berjumlah tiga ratus orang (Hak 7:7), itupun hanya 1/3 yang ikut langsung dengan Gideon (100 orang (Hak 7:19) tapi mereka mampu mengubah keadaan, dan akhirnya suku-suku Israel percaya Tuhan melalui Gideon dan orang-orang sisa ini (Hak 8:22), dan seluruh Israel aman dari Midian selama 40 tahun (Hak 8:28).

Daud, Yusuf, Daniel, Mordekai & Esther, Sadrak-Mesakh-Abednego dan masih banyak contoh lainnya memperlihatkan bahwa orang-orang sisa memegang peran strategis dan penting dalam denah biru (blueprint) Tuhan, di setiap masa dan generasi.

Nubuatan atas bangsa Israel sendiri merujuk kepada orang-orang sisa-sisa (Rom 9:27-28,11:5). Nabi Zefanya menggambarkan orang-orang sisa ini adalah orang-orang yang memegang integritas dan moral dengan radikal tapi rendah hati.

Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya. (Zef 3:12-13)

Yesus pada waktu kotbah dibukit mengajarkan tentan pintu yang sesak (Mat 7:13-14) bicara tentang orang-orang yang mau melalui proses pikul Salib dan mengerjakan panggilan, dan mandat selama di muka bumi sampai selesai.

Orang-orang sisa ini adalah orang-orang yang sudah selsai dengan dirinya, berani taat kepada setiap perintah yang diberikan, menjadi pionir dengan membuka jalan bagi seluruh Tubuh Kristus. Kita berhutang dengan orang-orang ini, sekaligus sebuah tantangan supaya kita pun menjadi bagian orang-orang yang bertahan sampai akhir.

Seandainya TUHAN semesta alam tidak meninggalkan pada kita sedikit orang yang terlepas, kita sudah menjadi seperti Sodom, dan sama seperti Gomora. (Yes 1:9)

Pendalaman Alkitab:
Kata sisa dalam bahasa Ibrani  dipakai kata shear (H7605) artinya yang tertinggal, jumlah kecil dari sesuatu. Kata sinonim yang dipakai adalah syarid (h8300)  yang memperlebar arti kata menjadi yang selamat (survivor). Kutipan kitab Yesaya yang ditulis dalam bahasa Yunani di Roma dengan kata leimma (G3005), dari kata dasar leipo (G3007) yang berarti yang dilupakan, miskin, kekurangan, dan tidak diperhatikan, seperti reruntuhan.  Orang-orang sisa tidak terlihat, tapi memiliki peran strategis dan kelompok yang mampu bertahan.

Fokus kepada standard, idealisme, dan kualitas, maka kuantitas dan jumlah menyusul.



Sabtu, 01 Februari 2020

Menjadi Keluarga Israel

Sabtu, 1 Februari 2020 (6 Shevat 5780)


Menjadi Keluarga Israel

Bacaan :  Kej 49:1-33

Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing.   
(Kej 49:28)

Ke-12 anak lelaki Yakub, yang adalah buyut-buyut Abraham, dan cucu-cucu Ishak, mendapatkan berkat-berkat Yakub dan disebut suku Israel.  Sebelum Kej 49:28, ke-12 orang ini disebut anak Yakub, tapi kemudian disebut "itulah semuanya suku Israel."
Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata: "Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu. (Kej 49:1-2)
Perubahan dari sebutan anak menjadi suku Israel adalah perubahan status dari satu keluarga menjadi satu bangsa. Dan perubahan itu terjadi setelah Yakub sebagai generasi ke-3 setelah Abraham, dan diwarisi oleh ke-12 anak Yakub sebagai generasi ke-4.

Orang Israel (anak-anak Yakub), sampai hari ini, selalu menyebutkan Tuhan orang Israel (Tuhan Yakub), adalah Tuhan Abraham, Ishak, dan Yakub.  Artinya, keturunan Yahudi dari Abraham, sampai sekarang Israel modern yang merdeka 14 Mei 1948 selalu diingatkan bahwa seluruh Yahudi adalah satu keluarga, dan satu bangsa.
Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun. (Kel 3:15)
Masing-masing anak Yakub (suku Israel) mendapatkan berkat tersendiri. Dan dalam perjalanan mereka di padang gurun, ke-12 suku ini memiliki tata cara dalam membangun kemah ataupun berjalan.  

Suku Yehuda, Isakhar, dan Zebulon menjadi kelompok pembuka, suku Ruben, Simeon, Gad adalaj kelompok ke-2 yang sangat terampil berperang, kelompok ketiga ada suku Benyamin (adik Yusuf) yang menjaga dua suku muda yaitu suku Efraim dan Manasye (anak-anak Yusuf) mewakili kelompok generasi, dan kelompok ke-4 adalah Dan, Asyer, Naftali yang sangat kreatif.

Suku Lewi tersebar didepan Yehuda (mengangkat tabut), Ruben (membawa tenda kemah suci), dan didepan Efraim (membawa peralatan).  Yehuda, Ruben, dan Efraim (yang mewakili Yusuf) adalah anak-anak Yakub yang memiliki hak kesulungan. Pertama Ruben, kedua Yusuf, setelah itu Yehuda menjadi yang pertama, dan akhirnya Yesus lahir dari suku Yehuda.

Ketika tiang awan dan api berhenti, suku-suku ini berkemah selalu dalam urutan (alignment) yang selalu sama, kelompok Yehuda di sebelah timur, kelompok Ruben disebelah selatan, kelompok Efraim disebalah Barat, dan kelompok Dan disebelah utara. 

Ditambah lagi, dalam tradisi Israel, setial bulan baru (Rosh Chodesh), setiap bulan Israel mewakili satu suku Israel dan berkat-berkat Yakub dan Musa (Kej 49, Ul 33) selalu dibacakan dan dideklarasikan kembali.

Semua ini memperlihatkan bahwa perjanjian Tuhan untuk Israel adalah kekal, dan tidak pernah dibatalkan. 
Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.  (Rom 11:28-29)
Didalam iman kepada Yesus Kristus, sekarang kita yang bukan keluarga Israel, tetapi dicangkokan dalam keluarga Israel (Rom 11:24). Seperti Rut dan Naomi, maka bangsamu, adalah bangsaku, Tuhanmu adalah Tuhanku (Rut 1:16). Kita menjadi bagian dalam keluarga Israel melalui perjanjian Abraham yang digenapai dalam diri Yesus Kristus (Gal 3:29). 

Sebab itu, kita mewakili suku-suku yang menjadi bagian kita, harus mulai mencari dimana posisi kita dalam rencana keselamatan besar Tuhan atas Israel (redemptive destiny). Proses pencarian posisi inilah yang disebut proses penyelarasan (alignment) yang secara terus menerus terjadi dalam perjalanan iman kita, sampai kita tiba di posisi kita di Tubuh Kristus. 

Semua proses penyelarasan itu dimulai dengan kepercayaan bahwa kita harus diselaraskan dengan Israel sebagai yang sulung.  Tanpa menyelaraskan diri kepada rencana besar Tuhan atas Israel maka semua yang kita kerjakan tidak mendapatkan legalitas perjanjian kekal Abraham.
Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.  Dan inilah perjanjian-Ku dengan (Rom 11:25-27)
Pendalaman Alkitab:
Kata suku dalam bahasa Ibrani dipakai kata shebet (H7626) yang artinya batang, cabang, tangkai batang, terowongan, perkumpulan, marga, kaum, klan.  Suku DNAnya adalah keluarga yang menjadi sebuah identitas lahiriah dari setiap manusia. Dan identitas kesukuan ini tidak dihilangkan tapi diselaraskan dalam perkumpulan yang lebih besar yang disebut bangsa (nation). Segala suku, kaum, bangsa, dan bahasa (Wahyu 7:9) adalah hati Tuhan, karena kitalah keluargaNya.  


Kita tidak memilih satu keluarga, tetapi kita ditempatkan dalam satu keluarga.