Selasa, 21 Januari 2020

Berkat & Janji

Selasa, 21 Januari 2020 (24 Tevet 5780)


Berkat & Janji

Bacaan :  Kej 17:1-16

Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."
(Kej 17:20-21)

Keputusan Abraham dan Sarah mengambil Hagar pembantunya untuk menjadi istri ke-2 yang akhirnya melahirkan Ismael memperlihatkan buah pahit dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Kesepakatan sepasang suami istri "yang baik", bahkan untuk maksud yang rohani (untuk memenuhi janji Tuhan) tapi berakhir menjadi kesalahan, bahkan fatal. 

Ismael mendapatkan berkat, Ishak mendapatkan perjanjian (covenant) Allah.  Karena permintaan Abraham, maka Ismael mendapatkan berkat.  Tuhan mempunyai perjanjian dengan Abraham (Kej 12:1-3, Kej 15, Ke 17) sebab itu Ia memberkati Ismael karena perjanjian itu.  Tapi Tuhan katakan "Perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak".  Artinya, apa yang perjanjian Abraham diwariskan kepada Ishak, bukan Ismael.

Berkat atau Janji, baik atau benar, kebaikan dunia (good)  atau kebaikan Tuhan (God) adalah pilihan-pilihan yang muncul karena buah dosa. Apa yang baik dari dunia tidak selalu adalah kebenaran Tuhan.   

Kebenaran ini dihidupi oleh Musa. Karena kesalahan Imam Besar Harun dan Israel membangun Lembu Emas (Kel 32) maka dalam kemarahanNya, Tuhan membuat "penawaran" 
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu--Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus--yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan." (Kel 33:1-3)
Tuhan tetap akan memenuhi perjanjianNya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, tapi Tuhan tidak akan berjalan bersama Israel lagi.  Bayangkan, semua berkat tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu, bahkan malaikat diutus khusus untuk menjaga, tapi tanpa kehadiranNya.  Kembali kita melihat dua pilihan berkat atau janji.  

Israel memilih kehadiranNya, karena tanpa Tuhan semua berkati-berkati menjadi tidak ada artinya. Bahkan Israel sangat mengerti bahwa tawaran Tuhan itu sebenarnya adalah ancaman yang mengerikan.
Ketika bangsa itu mendengar ancaman yang mengerikan ini, berkabunglah mereka dan seorangpun tidak ada yang memakai perhiasannya. (Kel 33:4)
Materialisme, hidup sukses secara duniawi, kenyamann, dan status sosial menjadi mimpi manusia. Semakin maju dan modern, semakin terlihat jelas buah pengetahuan baik dan jahat, manusia mengejar berkat, daripada janji.  Karena berkat itu kelihatan dan langsung dinikmati, tapi Janji membutuhkan proses, dan terkadang tidak bisa dilihat.  Tidak heran Tuhan Yesus mengatakan, kita tidak bisa hidup dengan dua tuan, pilihannya adalah mammon (uang) atauh Tuhan (Mat 6:25). Apa pilihan kita?

Pendalaman Alkitab:
Kata mamon dalam bahasa Yunani memakai kata mamonas (G3162) yang artinya uang, kekayaan (wealth). Kata mamonas ini dipakai dalam 4 ayat dalam Perjanjian Baru, yaitu Luk 16:9, 11, dan 13 yang memperlihatkan sifat mamonas adalah tidak jujur.  Dan kecintaan kepada uang (philargia G5365) adalah akar dari semua kejahatan (I Tim 6:10)

Hidup Benar Lebih Baik Daripada Hidup Sukses


Senin, 20 Januari 2020

Akulah Tuhan!

Senin, 20 Januari 2020 (23 Tevet 5780)


Akulah Tuhan!

Bacaan :  Kej 15:1-16

Lagi firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu."
(Kej 15:7)

Dalam kondisi tidak ada anak, istri mandul, Abraham mendapatkan janji bahwa keturunannya akan seperti bintang di langit. Antara fakta dan janji yang sangat bertolak belakang. Untuk bisa percaya, membutuhkan iman yang cukup. 

Tarik menarik antara fakta dan janji adalah pertempuran tiap hari manusia.  Tidak sedikit yang akhirnya berhenti untuk percaya, karena terlalu melelahkan. Pernyataan Tuhan secara langsung kepada Abraham untuk menguatkan imannya adalah dengan mengatakan, "Akulah Tuhan!"

I am the Lord (Inggris) atau Yehova (Ibrani).  Kata yang digunakan bukan Elohim, tapi Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus disebut sebagai LORD (kurios) kurang lebih 700 kali. Dalam Perjanjian Lama, pertama kali kata Yehova dipakai dalam penciptaan Kej 2:4 merujuk kepada Yehova Elohim (Tuhan Allah atau Lord God). Sementara di Kej 1:1 hanya disebutkan Elohim atau Allah atau God.

Artiya, jaminan Tuhan kepada Abraham adalah pribadi Yesus Kristus itu sendiri, sang Mesias.  Keadaan yang semustahil apapun didalam Yesus ada kemenangan, karena Dialah Tuhan!

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil 2:8-11)
Abraham mengalami kemustahilan melalui istrinya Sarah yang mandul. Ada Ribka, Rahel, Istri Manoah, Elisabet, Hana yang juga mandul tapi akhirnya melahirkan. Dan bukan hanya melahirkan tapi melahirkan orang-orang hebat Ribka melahirkan Yakub, Rahel melahirkan Yusuf dan Benyamin, Isrti Manoah melahirkan Simson, Elisabet melahirkan Yohanes pembaptis, Hana melahirkan Samuel. Karena Akulah Tuhan!

Tiada yang yang bisa dibandingkan  seperti Tuhan kita (Yes 40:18). Segala kuasa dibumi dan disurga sudah diberikan kepada Yesus Kristus (Mat 28:18). Setiap kemandulan dalam hidup kita bukanlah halangan bagi Tuhan untuk menggenapi setiap janjiNya (Yes 55:11, Luk 1:37)
Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN. (Yes 54:1)

Pendalaman Alkitab:
Kata Tuhan dalam bahasa Yunani memakai kata kurios (G2962) yang artinya tuan, majikan, pemilik, gelar untuk menghormati. Kata ini dipakai untuk menggambarkan Siapa Yesus bagi kita. Yesus Kristus adalah Tuhan (FIl 2:11) artinya Dia adalah tuan, majikan, pemilik hidup kita (I Kor 6:20). Yesuslah penguasa tunggal dalam hidup kita (Kol 2:10, Yud 1:4), Dialah Kurios!


Hidup kita sudah dibeli, pemeliharaan adalah bagian Tuan kita.


Minggu, 19 Januari 2020

Rumah Abraham

Minggu, 19 Januari 2020 (22 Tevet 5780)


Rumah Abraham

Bacaan :  Kej 14:1-16

Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan
(Kej 14:14)

Sodom dan Gomora dalam peperangan melawan raja Kedarlaomer dan persekutuannya akhirnya mengalami kekalahan dan mati (Kej 14:8-10). Karena Lot ada di Sodom dan Gomora, maka Lot dan harta bendanya tertawan musuh.
Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi--sebab Lot itu diam di Sodom.  (Kej 14:12)
Permasalahan Lot yang paling utama karena dia tinggal di tempat yang salah, yaitu Sodom.  Seharusnya dia bersama Abraham, karena pamannya itu yang mendapatkan janji Tuhan, bukan Lot. Salah jalan Lot dibayar dengan harga yang mahal.  

Mendengar tertawannya Lot, Abraham tidak tinggal diam. Dia melupakan perbedaan dan perselisihan, dan mengusahakan yang terbaik untuk membebaskan Lot dengan cara mengirim pasukannya yang terbaik, yaitu 318 orang yang lahir dan terlatih dirumahnya sendiri.  318 orang ini adalah anak-anak rumah Abraham. 

Lot seharunya adalah bagian dari 318 pasukan elite ini, tapi dia keluar dari rumah dan mencari rumah sendiri akhirnya hidupnya terus menerus menderita karena tinggal di Sodom dan Gomora. Karena pada dasarnya, Lot adalah orang yang mengerti kebenaran, dan memiliki kerinduan untuk selalu hidup dalam kehenda, dan mandat Tuhan.  
tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, -- sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa--  (II Pet 2:7-8)
Kerinduan Abraham sama dengan kerinduan Tuhan untuk menyelamatkan kita yang tertawan di Sodom, rumah yang salah. Orang-orang benar yang karena kebutuhan keuangan, tekanan sosial, keluarga, bahkan masyarakat, akhirnya mengambil keputusan untuk tinggal "diluar rumah", meninggalkan panggilan dan mandat yang ada.  

Orang-orang yang sudah mengenal kasih Tuhan, bahkan pernah menghidupi panggilan dan tinggal didalamnya, meskipun terlihat berhasil di Sodom-nya masing-masing, tapi seperti kata Petrus, jiwa mereka benar-benar tersiksa, dan penuh kemarahan.

Meninggalkan panggilan, dan mandat membuat kita menjadi orang-orang yang marah dengan kehidupan, seperti Yunus di perut ikan, orang yang takut Tuhan tapi salah jalan (Yun 1:9).  Sehingga sampai Niniwe diselamatkan pun, bukan ucapan yang syukur tapi kemarahan dalam hati yang robek.  Pertanyaan Tuhan kepada Yunus, adalah pertanyaan untuk kita semua, Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?" (Yun 4:4).  

Pendalaman Alkitab:
Kata benar dalam bahasa Yunani memakai kata dikaios (G1342) yang artinya adil, tegak lurus, sesuai hukum, tidak bersalah. Dalam konteks Lot, meskipun dia salah jalan, tapi dia disebut orang benar dan layak diselamatkan. Itulah yang disebut dibenarkan (justifikasi).  Bukan hanya Kristus yang membenarkan kita (I Kor 1:30), tetapi Yesus Kristus adalah kebenaran kita (II Kor 5:21)


Orang percaya adalah orang yang paling berbahagia, karena dibenarkan.


Sabtu, 18 Januari 2020

Seperti Taman Tuhan

Sabtu, 18 Januari 2020 (21 Tevet 5780)


Seperti taman tuhan

Bacaan :  Kej 13:5-11

Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.
(Kej 13:9)

Abraham dan Sarah tidak memiliki anak karena mandul (Kej 11:3). Lot adalah keponakan anak dari Haran saudara kandung Abraham.  Lot sudah bisa dianggap anak sendiri oleh pasangan yang tua yang tidak punya anak dan kaya raya ini. Lot mencangkokkan hidupnya kepada Abraham dan Sarah.

Di tanah Negeb, gembala-gembala Lot berkelahi dengan gembala-gembala Abraham (Kej 13:7), dan Abraham tidak menginginkan perkelahian itu (Kej 13:8), sehingga lahirlah pertanyaan sekaligus permintaan Abraham untuk Lot mengambil keputusan. Yang perlu dicatat adalah Abraham katakan, "pisahkan dirimu..".  Dia memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih terlebih dahulu.  
Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. --  (Kej 13:10)
Lot mengambil keputusan berdasarkan apa yang dilihat, sama dengan Hawa (Kej 3:6).  Dan Lot memilih seluruh Lembah Yordan yaitu Sodom dan Gomora karena "seperti Taman Tuhan".  Apa yang dianggap Lot terbaik, pada akhirnya hanya menjadi malapetaka.  

Keluarganya rusak, dan akhirnya istrinya pun menjadi tiang garam (Kej 19:26). Akhirnya,  lahirlah bangsa Amon, dan Moab yang "terkutuk"  dari keputusan Lot yang berdasarkan apa yang kelihatan baik.

Dalam kita mengambil keputusan, seharusnya kita melihat dari sudut pandang Tuhan. Bagi Abraham, kekanan atau kekiri tidak penting. Yang dia tahu adalah Lot harus memisahkan diri karena kerabat tidak boleh berkelahi.  Abraham mengambil keputusan karena kebenaran, dan prinsip.  
Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,  sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. (Kej 3:14-15)
Tuhan ada dipihak Abraham. Kekiri atau kekanan Abraham diberkati, karena dia memiliki sumber berkat itu. Justru ketika Lot sudah berpisah, maka Tuhan bicara.  Lot telah menjadi beban dalam kehidupan Abraham.  

Kita harus pisahkan Lot-Lot dalam hidup kita yang hanya melihat apa yang terlihat baik, tapi tidak pernah mengerti bahwa yang baik tanpa Tuhan itu adalah buruk.  Sementara itu, yang terlihat padang gurun ternyata adalah tanah perjanjian.  
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. (Ibr 12:1)
Apapun yang merintangi kita haruslah dibuang. Seperti Paulus katakan aku melupakan yang dibelakang dan mengarahkan diri kepada yang didepanku dan berlari sampai tujuan (Fil 3:13-14). Setiap dinyatakan dalam Injil Lukas, "Ingatlah akan isteri Lot!" (Luk 17:32), jangan menengok kebelakang, mata kita harus selalu tertuju kepada Kristus (Ibr 12:2). 

Pendalaman Alkitab:
Kata melihat dalam bahasa Yunani ada 3 kata yang dipakai blepo (G991), theoro (G2334), horao (G3708, ) yang artinya blepo melihat secara fisik dan jasmani, theoro melihat dan menarik sebuah kesimpulan (berteori), dan horao adalah melihat dengan pemahaman, dan pengertian. Kita tidak sekedar melihat dengan mata jasmani, atau dengan teori-teori manusia, tapi kita melihat Tuhan dalam pengertian dan wahyu-wahyu Ilahi.
Bukan apa yang kita lihat, tapi yang Tuhan lihat yang menentukan.


Jumat, 17 Januari 2020

Percaya Saja

Kamis, 17 Januari 2020 (20 Tevet 5780)


Percaya Saja

Bacaan :  Kej 12:1-9

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. 
(Kej 12:1)

Abraham atau awalnya disebut Abram atau juga disebut dengan Ibrahim adalah tokoh utama yang disebut Bapa orang percaya. Setelah peristiwa Babel, Abraham mendapatkan "perintah" untuk keluar dari Ur-Kasdim ke negeri yang tidak disebutkan namanya. 
Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.  (Ibr 11:8)
Abraham, dia percaya saja! Itulah inti dari iman. Apapun yang dikatakanNya kita percaya dan kita lakukan. Yesus mengatakan itulah dasar yang teguh, mendengar dan melakukan firmanNya (Mat 7:24-27).  Darimana iman seperti itu? Paulus mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firmanNya (Rom 10:17).

Tidak tahu adalah keadaan yang secara psikologis sangat ditakuti manusia. Tidak tahu mau makan apa, tidah tahu bagaimana menyelesaikan masalah, tidak tahu mau bekerja apa, tidak tahu mau kemana, dan sebagainya.  Sebab itu, pergi ketempat yang tidak diketahui, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan bagaimana sampai kesana, membutuhkan kepercayaan yang sangat besar.  Dan Abraham punya itu.

Seri kotbah Yesus yang pertama dibukit (Mat 5-7) menyelipkan pengajaran "jangan kuatir" (Mat 6:25-34) yang memiliki arti jangan takut akan apa yang tidak kit ketahui, dan percaya saja. Bahkan perintahNya adalah carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka yang lain-lain hanyalah tambahan (Mat 6:33). Ada garansi dari Yesus, bahwa Bapa kita adalah Bapa yang memelihara.

Sama juga dengan Abraham, ada sebuah jaminan (Kej 12:2-3) bahwa Abraham dan keturunannya akan menjadi berkat dan membawa berkat kebangsa-bangsa. Jaminan dan garansi Abraham terletak hanya kepada perkataan Firman.  Inilah yang dirujuk Yesus ketika Dia mengatakan kita hidup bukan dari roti, tapi dari perkataan yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4)
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. (I Yoh 5:4)
Yesus sudah mengalahkan dunia dikayu salib (Yoh 16:33), dan sekarang kita yang tinggal didalam dunia dapat mengalahkan segala ketakutan, kekuatiran, dan kebingungan yang disebabkan oleh dunia dengan percaya. "Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" (I Yoh 5:5).  Apakah kita percaya?

Pendalaman Alkitab:
Kata iman dalam bahasa Yunani memakai kata pistis (G4102) yang artinya keyakian, kepastian, percaya, jaminan, kesetiaan. Kata yang sangat penting yang didefinisikan sebagai dasar sekaligus bukti (Ibr 11:1).  Dalam pistis, masa depan (bukti) sudah terjadi ketika bahkan ketika pertama kali percaya (dasar). 

Dunia mencari solusi, kita mencari instruksi, karena kita percaya.


Kamis, 16 Januari 2020

Bahasa Tuhan

Jumat, 16 Januari 2020 (19 Tevet 5780)


Bahasa Tuhan

Bacaan :  Kej 11:1-9

 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi. 
(Kej 11:9)

Akibat dosa membuat Adam Hawa diusir dari Eden, Kain menjadi pelarian dan pengembara karena menjadi pembunuh pertama yang pernah ada, dan akhirnya sampai puncaknya dengan dihukumnya manusia dengan banjir di jaman Nuh (Kej 6-10).  Peristiwa menara Babel adalah peristiwa setelah banjir yang memperlihatkan, manusia tidak bertobat, tapi justru semakin matang dalam dosa.
Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi (Kej 11:4)
Manusia berusaha menjadi satu tetapi bukan untuk Nama Tuhan, tapi mencoba membuat jalan sendiri menuju surga, bahkan membuat nama sendiri. Dan mereka bisa melakukan itu karena mereka memiliki bahasa dan logat yang sama (Kej 11:1).

Kekuatan dari bahasa mampu menyatukan manusia sehingga menjadi satu kekuatan yang dahsyat. Manusia yang diciptakan serupa dan segambar Allah sendiri (Ke 1:26-27). Dari sini kita bisa melihat bahwa, persekutuan yang diluar Tuhan adalah kekuatan demonik yang sangat besar.

Tuhan sendiri yang mengambil inisiatif untuk menghancurkan persekutuan jahat manusia.  "Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing" (Kej 11:7). Cara menghancurkan persekutuan jahat itu adalah dengan mengacaukan bahasa.

Setelah itu, yang terjadi adalah "kacau balau" atau kebingungan. Sehingga menara Babel telah melahirkan peradaban dan sistem dosa yang didasarkan atas kekacauan dan kebingunan.  Babilonia adalah kerajaan yang memanifestasikan sistem dunia ini. Selama 70 tahun, Israel juga dibuang ke Babel.

Kitab Wahyu memperlihatkan "roh Babel" masih ada sampai akhir zaman (Why 14:8, 16:9,18:10) Memperlihatkan bahwa peradaban manusia apapun eranya, karena sudah terkhamiri dosa, pada dasarnya adalah peradaban yang kacau balau dan bingung.

Lalu bagaimana? Kita harus kembali ke bahasa Tuhan. Bahasa Tuhan inilah yang akan mampu mengalahkan semua kekacuan dan kebingungan yang ditawarkan dunia. 
Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. (Yoh 8:43)
Bukan hanya mendengar suara-Nya, tapi mengerti dan memahami apa yang Dia katakan adalah yang terpenting. Raja Salomo mengerti hal itu sebab itu yang Dia minta adalah kebijaksanaan, atau hati yang bisa mendengar Tuhan sehingga mampu membedakan yang baik dan jahat. 
Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"  (I Raj 3:9)
Hati yang faham (an understanding heart) adalah cara untuk memahami bahasa Tuhan. Ketika kita bisa berkomunikasi dengan bahasa Tuhan, maka tiba-tiba semua yang didunia menjadi bisa dimengerti dari sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang Kerajaan. Paulus menyebutkan bahasa Tuhan itu adalah Roh hikmat dan wahyu yang memampukan kita mengenal Dia (Ef 1:17).

Pendalaman Alkitab:
Kata membedakan dipakai kata dalam bahasa Ibrani, bene (H995) yang artinya membedakan secara mental, memahami, merasakan, mengamati, dan menghakimi. Kata ini dipergunakan seperti seorang hakim mengambil keputusan harus jelas hitam atau putih, harus ada ketegasan dan kepastian.

Mampu melihat Tuhan dalam setiap keadaan adalah pengertian Ilahi


Rabu, 15 Januari 2020

Kunci Kemenangan

Rabu, 15 Januari 2020 (18 Tevet 5780)


Kunci Kemenangan

Bacaan :  Kej 3:1-24

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.
(Kej 3:15)

Dosa sudah membuat manusia tidak ada harapan. Ketakutan Kain (Kej 4:14) mewakili ketakuan kita yang paling dalam. Kehidupan diluar Eden adalah kehidupan yang sangat tidak ideal, keras, bahkan kejam.  Tidak ada yang tempat yang paling tepat bagi manusia untuk tinggal, sehingga manusia terus berlari, mengembara, dan takut. 

Paulus menggambarkan keadaan manusia yang hancur itu sebagai kehilangan kemuliaan Tuhan (Rom 3:23). Daud bahkan dengan lebih jelas mengatakan, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku."  Kondisi yang tidak memungkinkan untuk hidup dalam kemenangan. Kita sudah kalah, bahkan sebelum kita maju berperang. 

Keadaan manusia setelah dosa sudah bisa dilihat Tuhan, sehingga Dia sejak dini sudah memberikan jalan keluar dari problem terbesar manusia ini.  Jalan keluar itu adalah sebuah perjanjian. Tuhan berjanji!  Perjanjian Induk dalam Kej 3:15 disebut perjanjian Adam dilanjutkan Tuhan dengan perjanjian kepada Nuh, Abraham, Musa, Daud, sampai tergenapinya semua janjiNya dalam pribadi Yesus Kristus, Perjanjian Baru.
Dan kamu, saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji. (Gal 4:28)
Posisi rohani kita menurut Paulus kepada jemaat Galatia sama dengan Ishak anak Abraham adalah anak-anak janji. Sebab itu perjanjian Tuhan kepada Abraham (Abrahamic Covenant) adalah dasar perjanjian yang sudah lebih konkrit setelah perjanjian Adam, dan Nuh yang bersifat masa depan.
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."  (Kej 12:1-3)
Bukan hanya menerima mandat untuk "pergi" tapi kunci keberhasilan Abraham adalah pernyataan "Aku akan", artinya Tuhan yang memastikan kemenangan, bukan perbuatan, atau kepandaian Abraham. Karena manusia sudah kehilangan semua kemampuan dan kesempatan untuk menang, maka berpegang dan menghidupi janjiNya adalah satu-satunya jalan keluar.  Kel 14:14, "TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."
Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak; diadakan-Nya hal itu menjadi ketetapan bagi Yakub, menjadi perjanjian kekal bagi Israel, (Maz 105:8-10)
Perjanjian-Nya sudah teruji mulai dari Abraham, Ishak, dan Yakub bahkan sampai seribu generasi menjadi perjanjian kekal. Dari ikatan, sumpah, akhirnya menjadi ketetapan, tidak dirubah sekali, didalam Yesus semua termaterai sah sekali untuk selamanya (Ibr 9:28).  Perjanjian Tuhan adalah dasar dan bukti bahwa kita adalah orang-orang lebih dari pemenang (Rom 8:37), karena Dia sudah menyelesaikan untuk kita.

Pendalaman Alkitab:
Kata perjanjian dipakai kata dalam bahasa Ibrani, berith (H1285) yang artinya kontral legal, persetujuan, aliansi, ikrar, deklarasi, ordinansi. Pernikahan adalah contoh utama bagaimana sebuah perjanjian dilakukan. Pernikahan membutuhkan pengorbanan sekaligus kerelaan semua pihak karena Cinta dan mengikat sampai maut memisahkan.


Diperanakan dalam dosa, apakah yang bisa kita banggakan?